Ketika masih berkarier sebagai auditor di Big 4, saya beberapa kali mendapat tawaran untuk pindah ke perusahaan. Saat itu, ada dua kelompok perusahaan yang selalu saya hindari. BUMN dan perusahaan keluarga.
Setelah hampir satu dekade, saya akhirnya menerima tawaran impian sebagai CFO di sebuah perusahaan tambang multinasional, bagian dari salah satu grup tambang terbesar di dunia. Selama 14 tahun, saya belajar banyak tentang good corporate governance dan best practices.
Namun, di organisasi global yang sangat besar, ruang untuk melakukan inovasi sering kali terbatas. Sistem, kebijakan, dan prosedur sebagian besar sudah ditetapkan di tingkat grup.
Setelah meninggalkan peran CFO dan membangun portfolio career, pandangan saya berubah. Saya pernah terlibat dalam BUMN sebagai anggota Komite Pemantau Risiko dan Komite Audit. Potensinya sangat besar, tetapi saya menyadari bahwa saya mungkin bukan orang yang paling cocok dengan dinamika lingkungannya.
Di perusahaan keluarga, saya menemukan sesuatu yang berbeda. Setiap perusahaan memiliki dinamika sendiri, tetapi banyak yang memiliki potensi luar biasa untuk tumbuh menjadi pemain regional bahkan global.
Tantangan terbesarnya, menurut saya, bukan modal atau peluang. Tetapi transisi.
Dari founder-driven company menjadi institution-driven company. Dari intuisi menjadi sistem dan governance. Dari bisnis keluarga menjadi organisasi profesional. Dari pemain lokal menjadi pemain global.
Saya percaya Indonesia memiliki banyak perusahaan keluarga yang mampu bermain di panggung dunia. Dan mimpi saya adalah menjadi salah satu profesional yang bisa ikut membantu mereka menavigasi perjalanan tersebut—tanpa menghilangkan jiwa dan nilai yang membuat perusahaan keluarga itu istimewa.
Menurut Anda, perusahaan keluarga Indonesia mana yang paling berpotensi menjadi pemain global?